IGMTVnews.com —– Universitas Indo Global Mandiri (IGM) bersosialisasi ke SMA Negeri 6 Palembang, Rabu (28/1).
Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UIGM, Dr. Ir. H. Endy Agustian, S.T., M.Eng., mewakili jajaran Universitas IGM memaparkan jika akar dari berbagai konflik dan tindak kekerasan di lingkungan sekolah sering kali bermula dari miskomunikasi. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi yang efektif, santun, dan inklusif menjadi keterampilan dasar yang wajib dimiliki setiap siswa. Selain komunikasi, penguatan budaya literasi juga menjadi poin krusial sebagai dasar bagi siswa untuk berpikir kritis dan memiliki empati tinggi. Budaya literasi yang baik diyakini dapat membantu siswa dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab serta memahami perbedaan pendapat tanpa harus berujung pada tindakan intimidasi atau kekerasan.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan kekuatan untuk memahami perspektif orang lain sehingga setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog yang bermartabat,” ujar Endy dalam kegiatan yang tertajuk Pentingnya Komunikasi dan Literasi bagi Siswa tersebut.
Kegiatan ini secara spesifik bertujuan membekali anggota TPPK sebagai agen perubahan di sekolah agar menjadi teladan dalam menerapkan komunikasi yang sehat. Siswa diajak untuk aktif membangun iklim sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika.

Melalui keterampilan komunikasi yang beretika, diharapkan anggota TPPK mampu menjadi mediator yang handal jika terjadi gesekan antar-pelajar. Edukasi ini juga menjadi langkah preventif dalam memutus rantai perundungan (bullying) yang masih menjadi tantangan di dunia pendidikan saat ini.
“Kami ingin setiap siswa menyadari bahwa kata-kata yang baik memiliki kekuatan besar untuk merangkul dan mencegah lahirnya bibit-bibit kekerasan di lingkungan belajar mereka,” ujarnya.

Inisiatif yang dilakukan oleh Kaprodi PWK UIGM ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4, yakni memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi semua.
“Pendidikan yang berkualitas hanya dapat terwujud jika sekolah menjadi ruang yang aman secara psikologis bagi setiap anak untuk berekspresi tanpa rasa takut,” pungkasnya. (andhiko ta)


