IGMTVnews.com —– Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., memberikan catatan penting mengenai peta kekuatan sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi swasta.
Dalam sidang senat terbuka pengukuhan Guru Besar Prof Darius Antoni Universitas Indo Global Mandiri, Kamis (12/2) kemarin, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap jumlah guru besar yang saat ini masih sangat minim jika dibandingkan dengan total populasi dosen yang ada.
Data menunjukkan bahwa dari sekitar 8.800 hingga 9.000 dosen yang bernaung di bawah LLDIKTI Wilayah II, jumlah guru besar yang aktif kini hanya tersisa 58 orang. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam meningkatkan kualitas dan jenjang akademik dosen secara masif.
Menurut Prof. Iskhaq, tantangan ini semakin nyata mengingat sekitar 60 persen dosen di wilayahnya masih berada pada jabatan fungsional tenaga pengajar dan asisten ahli. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak dosen yang belum memiliki atau bahkan tidak memahami peta jalur profesi mereka untuk mencapai puncak karier akademik.

Ia mengatakan, saat ini LLDIKTI Wilayah II terus berupaya mendorong para dosen agar memiliki komitmen jangka panjang dalam menjalani profesinya, mengingat perjalanan menuju gelar profesor bukanlah hal yang instan.
“Kita harus sadar bahwa kenaikan jenjang akademik bukan sekadar urusan administratif, melainkan bukti nyata dari konsistensi seorang pendidik dalam mengembangkan disiplin ilmunya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang baru saja meraih gelar guru besar agar terhindar dari perilaku yang ia sebut sebagai ‘Syndrome Toga’. Fenomena ini terjadi ketika seorang profesor merasa sudah mencapai titik akhir sehingga enggan untuk terus belajar, memperbarui ilmu, atau bahkan menarik diri dari sosialisasi akademik.
Ia menekankan bahwa seorang guru besar justru memikul tanggung jawab besar sebagai role model manusia pembelajar sepanjang hayat. Gelar akademik tertinggi bukanlah garis finis, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk tetap inklusif dan terbuka terhadap perkembangan teknologi serta pengetahuan baru.

Menurutnya, produktivitas akademik seorang guru besar harus tetap terjaga, terutama dalam menjalankan peran sebagai mentor bagi dosen muda dan mahasiswa. Selain keunggulan intelektual, keteladanan dalam karakter serta menjaga moralitas dan etika akademik menjadi syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan.
“Wibawa seorang guru besar tidak terletak pada gelarnya yang panjang, melainkan pada sejauh mana ia mampu menjadi kompas moral dan sumber inspirasi bagi pertumbuhan intelektual orang-orang di sekitarnya,” pungkasnya. (andhiko ta)


