Ruang Kelas Kurang, 8 Tahun Siswa SDN Belajar di Bawah Pohon

IGMTVnews.com —– Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tando di Desa Robo, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah pohon karena keterbatasan rombongan belajar atau ruang kelas. Lokasinya ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo. Momen siswa belajar di bawah pohon viral di media sosial.

Kondisi siswa melaksanakan KBM di bawah pohon itu sudah berlangsung sejak sekitar delapan tahun lalu. Kini siswa kelas 2 dan 3 yang bergantian melaksanakan KBM di bawah pohon.

“Sudah lama, sejak 2018,” ungkap Kepala SDN Tando, Fransiskus Jenala, Sabtu (11/4/2026). Kelas 2 sekolah tersebut memiliki 15 murid, dan terdapat 10 murid untuk kelas 3. Video yang viral di media sosial itu adalah KBM kelas 3.

Fransiskus menjelaskan gedung SDN Tando memiliki tiga ruang permanen yang dibangun pada 2018, dan satu ruang nonpermanen. Ruang kelas nonpermanen ini dibangun secara swadaya oleh orang tua murid pada 2016. Kondisi ruang kelas nonpermanen itu memprihatinkan. Berukuran 5×6 meter, ruangan kelas itu berlantai tanah. Dinding dan atapnya menggunakan seng.

Ruang kelas reyot itu digunakan oleh siswa kelas 2 dan 3. Tak ada sekat pembatasnya. Jika musim hujan, KBM siswa kelas 2 dan 3 dilakukan bersamaan dalam ruang kelas sempit tersebut. Tempat duduk siswa kelas 2 dan 3 hanya dipisahkan lorong.

Saat cuaca cerah seperti saat ini, siswa salah satu kelas yang menempati ruang nonpermanen itu melaksanakan KBM di bawah pohon. Itu dilakukan bergantian oleh kelas 2 dan 3. Kebijakan itu dibuat agar KBM siswa dua kelas dalam satu ruangan tanpa sekat itu tidak saling terganggu. “Yang di bawah pohon itu siswa dari satu ruangan yang dibangun swadaya orang tua, itu kami gunakan untuk kelas 2 dan 3. Yang kemarin viral itu anak kelas 3 karena yang di dalam ruangan diisi anak kelas 3,” terang Fransiskus.

“Kalau KBM kelas 3 (di dalam kelas), kelas 2 di luar (KBM di bawah pohon). Kalau KBM kelas 2 di dalam maka kelas 3 di luar,” lanjut dia.

Saat musim hujan, kata dia, siswa dua kelas itu melaksanakan KBM dalam kelas yang sama. Agar tak saling mengganggu, satu kelas melaksanakan KBM, kelas lainnya mengerjakan tugas. “Kalau musim hujan kami bawa dalam kelas, kasi tugas yang lain. Kelas 2 misal yang KBM maka kelas 3 kasi tugas. Ada lorong pembatas kelas 2 dan 3, tidak ada sekat,” jels Fransiskus. Terdapat 173 siswa di SDN Tando. Meraka siswa kelas 1 hingga kelas 6. Tenaga pengajar sebanyak delapan orang.

Tiga gedung permanen SDN Tando digunakan untuk ruang kepala sekolah, guru, dan siswa. Tiap ruangan disekat menjadi dua ruang. Satu ruangan disekat untuk ruang kepala sekolah dan guru. Satu ruangan disekat untuk ruang kelas siswa kelas 4 dan 5. Satu ruangan lagi disekat untuk siswa kelas lainnya. (*)