IGMTVnews.com —– Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang sebelumnya telah dilakukan.
BPBD Ogan Ilir bersama Fakultas Teknik UIGM, khususnya Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) serta Program Studi Geomatika. Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan kapasitas penanggulangan bencana daerah yang berbasis pada kajian ilmiah dan pengolahan data spasial yang akurat.
Tujuan utama dari kerja sama ini adalah penyusunan dan penyempurnaan Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Ogan Ilir. Ruang lingkupnya mencakup pengembangan pemetaan risiko bencana berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) serta integrasi aspek kebencanaan ke dalam perencanaan tata ruang wilayah.

Kaprodi PWK UIGM, Dr. Ir. H. Endy Agustian, S.T., M.Eng., menjelaskan timnya akan berfokus pada analisis perencanaan wilayah berbasis risiko untuk menyusun strategi mitigasi, baik struktural maupun non-struktural, demi mendukung pembangunan berkelanjutan di Ogan Ilir.
“Kami berkomitmen mentransformasikan data teknis menjadi dokumen kebijakan yang aplikatif agar pembangunan di Ogan Ilir memiliki ketahanan tinggi terhadap ancaman bencana,” ujar Dr. Endy Agustian.
Menurutnya, pihak BPBD Ogan Ilir berperan sebagai penyedia data dan pengguna utama (end user) hasil kajian ini diharapkan lahir dokumen RPB yang komprehensif dan sesuai dengan karakteristik wilayah Ogan Ilir. Dampak jangka panjang yang dibidik adalah terciptanya budaya mitigasi yang kuat dalam proses pembangunan daerah serta penguatan sinergi antara dunia akademik dan pemerintah.
“Kerja sama berkelanjutan ini adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa setiap kebijakan mitigasi di lapangan didorong oleh kekuatan kajian riset dan teknologi geospasial yang mutakhir,” katanya.

Di sisi teknis pemetaan, Kaprodi Geomatika UIGM, Ahmad Ridho Sastra, S.T., M.Eng., menambahkan UIGM akan melakukan pengolahan data geospasial untuk mengidentifikasi ancaman, kerentanan, dan kapasitas daerah. Fokus pemetaan akan menyasar pada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kebakaran hutan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Dukungan teknis ini melibatkan dosen sebagai tenaga ahli serta mahasiswa dalam kegiatan survei lapangan dan pengolahan peta tematik kebencanaan.
“Standardisasi data spasial menjadi kunci utama agar peta risiko yang dihasilkan benar-benar presisi dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” pungkasnya. (andhiko ta)


