Puncak Kemarau, Sepuluh Daerah di Sumsel Masuk Zona Merah Karhutla

IGMTVnews.com —– Sebanyak 10 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan berstatus zona merah karena tingginya jumlah kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, status zona merah tersebut meliputi Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Ogan Komering Ilir (OKI)  dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi, masing-masing mencapai 102 kejadian. Lalu,  OKU Timur mencatat 34 kejadian Ogan Ilir dengan 95 kejadian, Banyuasin 91 kejadian, PALI 79 kejadian, Muara Enim 62 kejadian, Kota Palembang 38 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) 37 kejadian, serta Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sebanyak 33 kejadian.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan bertambahnya wilayah yang masuk zona merah menunjukkan potensi karhutla di Sumsel masih sangat tinggi selama musim kemarau.

“Kondisi ini menunjukkan aktivitas karhutla masih tinggi. Karena itu kami terus mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” kata Sudirman, Selasa (4/8/2026).

Sudirman menjelaskan, selain itu terdapat dua daerah masih berada pada kategori zona oranye, yakni Kota Prabumulih dengan 25 kejadian dan Kabupaten Musi Rawas sebanyak 20 kejadian.

Sementara, lima daerah lainnya masih berada di zona kuning, yaitu Kabupaten Lahat dengan delapan kejadian, Empat Lawang lima kejadian, OKU Selatan empat kejadian, Lubuklinggau dua kejadian, dan Pagar Alam satu kejadian.

“Jumlah kejadian terbanyak masih berada di Musi Banyuasin dan OKI yang saat ini menjadi prioritas pemadaman. Tim masih terus bergerak untuk melakukan pemadaman bersama unsur terkait,”ujarnya.

Menurut Sudirman, karhutla diperkirakan akan masih terus berlangsung karena puncak musim kemarau. Seluruh petugas patroli di lokasi rawan kini dipusatkan untuk mencegah munculnya titik api yang baru terutama di kawasan lahan gambut yang sulit dipadamkan

“Dengan prakiraan musim kemarau yang masih berlangsung hingga beberapa bulan kedepan, kewaspadaan seluruh pihak harus menjadi kunci untuk menekan meluasnya karhutla dan mengurangi dampak asap terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat,”jelasnya. (*)