Kisah Amelia Masinis Perempuan Pertama MRT Jakarta yang Raih Beasiswa LPDP

IGMTVnews.com —– Di balik kemudi rangkaian kereta yang membelah kemacetan dari Lebak Bulus menuju pusat kota, ada sepasang mata yang fokus menatap sinyal dan panel kendali. Ia adalah Amelia Khairani Sutrisno.

Di kursi masinis itu, ia bukan sekadar pengendali perjalanan, melainkan sedang mematahkan stigma di salah satu ranah pekerjaan yang maskulin di Indonesia. Amelia adalah masinis perempuan pertama MRT Jakarta. Ia berhasil bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan bagi perempuan untuk berkontribusi dalam sektor strategis yang sering dipandang sebagai dunia laki-laki.

Selama puluhan tahun, profesi masinis di Indonesia identik dengan ketahanan fisik dan konsentrasi tinggi yang dianggap hanya milik laki-laki.

Namun, sejak 2018, Amelia membuktikan sebaliknya. Menjadi satu dari sembilan perempuan di angkatan pertama masinis MRT Jakarta adalah pertaruhan besar.

“Menjadi masinis itu tidak ada ruang untuk lengah,” tegas Amelia dikutip dari laman Media Keuangan Kemenkeu, Senin (20/4/2026). Bagi lulusan Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun ini, profesi masinis bukan soal gender, melainkan soal kedisiplinan, konsentrasi, dan tanggung jawab. Keselamatan penumpang adalah harga mati. Prinsip ini ia bawa dari rumahnya di Tulungagung, Jawa Timur.

Sebagai putri dari seorang prajurit TNI AD dan ibu seorang perawat, Amelia tumbuh dengan napas kedisiplinan yang ketat. “Kalau sudah memutuskan sesuatu, harus dijalani sungguh-sungguh,” kenang Amelia menirukan pesan ayahnya.

Masa kecil Amelia sangat lekat dengan hiruk-pikuk Stasiun Kereta Api Tulungagung, mengingat kantor ayahnya terletak persis di depan stasiun tersebut. Setiap hari, ia menyaksikan kereta api melintas dan mengamati para masinis yang saat itu seluruhnya adalah laki-laki.

Pemandangan ini menjadi latar belakang kesehariannya, meski saat itu ia belum pernah membayangkan akan berkarier di sana. Alih-alih bermimpi mengemudikan kereta, Amelia kecil justru bercita-cita menjadi dokter. Ia ingin mengikuti jejak ibunya yang berprofesi sebagai tenaga medis. Namun, takdir rupanya memiliki rencana yang berbeda bagi Amelia.

Selain didikan sikap disiplin dan tangguh dari Ayahnya, Amelia juga mendapatkan nasihat dan didikan dari Ibunya. Ada satu pesan sang Ibu yang selalu Amelia kenang.

“Nggak apa-apa sekolah di kampung. Siapa tahu nanti kalau kamu udah sukses dan ada yang mewawancari, kamu bisa cerita bahwa kamu dulunya sekolahnya di desa,” kenangnya. Kombinasi antara disiplin ala militer dari ayahnya dan empati serta ketelitian dari ibunya menjadi modal utama Amelia. Nilai-nilai keluarga inilah yang akhirnya membentuk pola pikirnya hingga ia mantap menjalani profesi sebagai masinis.

Ia menyadari bahwa industri transportasi terus berkembang secara global. Ia ingin belajar lebih dalam mengenai sistem keselamatan dan teknologi rel di University of Brimingham, Inggris, salah satu pusat studi perkeretaapian di dunia.
Beasiswa LPDP memberikan peluang besar bagi Amelia. Namun, jalan menujunya tidaklah semulus rel yang ia lalui setiap hari. Sebagai masinis dengan jadwal shift yang padat, bahkan seringkali harus mulai bekerja sejak dini hari, Amelia harus bertarung dengan waktu dan kelelahan untuk menaklukkan tes IELTS.

“Saya curi-curi waktu untuk belajar,” tukasnya. Di sela-sela jam istirahat atau sebelum berangkat kerja saat matahari bahkan belum terbit, Amelia berlatih speaking bersama teman-temannya. Sebuah rutinitas yang kecil namun sangat membantunya dalam mempersiapkan diri untuk tes beasiswa. Baginya, proses seleksi LPDP justru menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saat itu, ia bertemu dan bergabung dalam komunitas calon awardee yang saling membantu satu sama lain. Pengabdian kepada rakyat.

Bagi Amelia, lolosnya ia dalam seleksi LPDP bukanlah sebuah garis finis, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar. Ia sadar betul bahwa pendidikannya di University of Birmingham dibiayai oleh uang rakyat yang harus ia pertanggungjawabkan. “Value LPDP sejalan dengan value saya. LPDP bukan garis finish, justru dari situ kita harus memperluas kontribusi kita,” imbuhnya.

Ia bermimpi sekembalinya dari Inggris, ia dapat membantu menciptakan sistem transportasi nasional yang terintegrasi. Menghubungkan kota, wilayah, bahkan antar pulau dengan mudah dan terjangkau bagi masyarakat. Menurutnya, transportasi harus menjadi layanan publik yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. “My calling is to serve people,” katanya. (*)