IGMTVnews.com —– Riuh rendah halaman parkir Kampus Universitas Indo Global Mandiri (IGM) mendadak senyap saat dua pasang tangan mungil mulai memainkan boneka di atas panggung.
Dalam kemeriahan Open Campus dan perayaan Dies Natalis ke-18 Universitas IGM 2026, Rabu (17/6) panggung utama diambil alih oleh pesona cerita lewat gelaran IGM School Show Mendongeng. Dua siswa berbakat dari SD Plus IGM yang tergabung dalam ekskul mendongeng, sukses membius perhatian ratusan pasang mata pengunjung lewat penjiwaan karakter mereka.
Guru Pendamping Ekstrakulikuler Mendongeng SD Plus IGM, Eka Rusmalasari, yang mendampingi langsung dari bawah panggung.
Penampilan pertama dibuka oleh Fang Yin Malika Hibatillah, siswa kelas 3 yang tampil menggemaskan bersama boneka kesayangannya bernama Ping Ping. Lewat gerak-gerik boneka yang jenaka, Fang Yin mengisahkan keseharian Ping Ping yang awalnya dikenal sebagai sosok pemalas dan hanya suka tidur sepanjang hari.

Namun, alur cerita berubah menyentuh saat karakter Ping Ping bangkit setelah terus-menerus diberikan dorongan semangat oleh lingkungan sekitarnya, hingga akhirnya ia mau bergerak maju seperti biasa. Pesan tersirat tentang pentingnya motivasi dan dukungan sosial berhasil disampaikan dengan sangat polos namun mendalam dari atas panggung festival tahunan ini.
“Aku ingin menunjukkan bahwa dengan semangat dari teman-teman, siapa pun yang tadinya malas pasti bisa berubah menjadi rajin,” tegasnya.

Suasana semakin hangat saat Raniah Akifa Putri, siswa kelas 4, menyusul naik ke atas panggung dengan membawa properti karakter kuda dan buaya. Berbeda dengan kisah sebelumnya, Raniah membawakan narasi kuat mengenai pentingnya menumbuhkan minat dan kebiasaan rajin membaca buku sejak usia dini kepada seluruh penonton anak-anak maupun dewasa. Melalui dialog interaktif antar-satwa yang ia mainkan, Raniah dengan cerdas menyelipkan pesan bahwa buku adalah jendela dunia yang mampu mengubah pola pikir seseorang menjadi lebih baik.
Guru pendamping, Eka Rusmalasari, menambahkan penampilan ini menjadi bukti nyata bahwa ruang literasi tradisional masih memiliki daya pikat yang luar biasa jika dikemas dengan kreativitas. “”Mendongeng bukan sekadar menghafal cerita, melainkan cara anak-anak kita menyalurkan energi positif dan pesan moral ke hati pendengarnya,” pungkasnya. (andhiko ta)


