IGMTVnews.com —– Peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan kini semakin menjadi perbincangan. Teknologi ini dipandang sebagai alat bantu belajar yang potensial, tapi di sisi lain juga kerap dianggap sebagai jalan pintas. Seperti misalnya saat mahasiswa mulai mengandalkannya untuk menyelesaikan tugas seperti esai.
Kepala Bidang Pendidikan untuk India dan Asia-Pasifik di OpenAI, Raghav Gupta, menilai pemanfaatan AI seharusnya diarahkan sebagai pendamping belajar, bukan sekadar alat untuk mengejar nilai tinggi secara instan. Menurutnya, proses belajar yang ideal justru membutuhkan tantangan.
“Belajar itu perlu proses, perlu usaha. Artinya, kita harus benar-benar meluangkan waktu untuk memahami materi,” ujar Gupta, seperti dikutip dari The Straits Times.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi AI saat ini semakin canggih dan proaktif, termasuk melalui perangkat lunak yang dirancang untuk mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar. Sistem ini dibuat agar tetap menghadirkan tantangan, sehingga pengalaman belajar tidak kehilangan esensinya.
Di sisi lain, perusahaan teknologi tersebut juga terus mendorong pemanfaatan AI secara lebih terarah di sektor pendidikan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan.
AI pada Jenjang SD-SMA: Bantu Guru dan Staf
Pemanfaatan kecerdasan buatan di jenjang pendidikan dasar hingga menengah dinilai dapat membantu meringankan beban kerja guru dan tenaga kependidikan. Salah satu contohnya terlihat di lingkungan EtonHouse International Education Group di Singapura, di mana staf memanfaatkan ChatGPT Enterprise untuk menyederhanakan berbagai urusan administratif.
Meski demikian, penggunaan AI pada siswa perlu disikapi secara hati-hati. Raghav Gupta mengibaratkan pengenalan AI sejak dini seperti memberikan kalkulator kepada siswa sekolah dasar yang baru belajar perkalian. Alih-alih memahami prosesnya, siswa berpotensi memilih jalan instan tanpa benar-benar menguasai konsep dasar.
Kekhawatiran ini semakin relevan ketika ChatGPT dan berbagai alat AI lainnya digunakan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Dalam kondisi tersebut, fungsi AI sebagai alat bantu belajar justru tidak tercapai. Karena itu, penggunaan ChatGPT tidak diperuntukkan bagi anak di bawah usia 13 tahun, sementara remaja usia 13 hingga 18 tahun tetap memerlukan persetujuan orang tua.
Dengan semakin luasnya akses terhadap teknologi ini, diperlukan panduan yang jelas bagi anak-anak dalam menggunakan AI. Tujuannya bukan hanya untuk menjaga kualitas pembelajaran, tetapi juga memastikan teknologi tersebut benar-benar mendukung proses berpikir dan pemahaman, bukan sekadar hasil akhir.
Di sisi lain, kebutuhan dunia kerja saat ini termasuk di sektor pendidikan menuntut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta penilaian yang matang. Hal ini turut mendorong perubahan dalam sistem evaluasi siswa. Dalam konteks tersebut, AI dinilai mampu menawarkan setidaknya tiga pendekatan baru dalam penilaian yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. (*)


