IGMTVnews.com —– Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) perpartisipasi dalam forum Leaders Insight Business and Finance Summit Forum 2026 yang berlangsung di Ballroom Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (20/5).
Agenda strategis ini menghadirkan jajaran pembicara kunci, mulai dari Rektor Universitas IGM Dr. H. Marzuki Alie, Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto, Regional CFO Bank Syariah Indonesia Ary Yusnairy Muslim, hingga Ketua Dewan Pembina HIPMI Sumsel Kgs. H. Hermansyah Mastari. Forum tingkat tinggi tersebut difokuskan untuk mematangkan kesiapan mahasiswa manajemen bisnis dalam menghadapi dinamika industri.

“Kehadiran seluruh pemangku kepentingan di sini menjadi bukti nyata bahwa dunia akademik dan sektor keuangan memiliki visi yang sama untuk mencetak regenerasi pengusaha yang tangguh,” ujar Rektor Universitas IGM Dr. H. Marzuki Alie
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa kemitraan strategis antara kampus dan OJK Sumsel dirancang untuk mempercepat pemahaman literasi keuangan sekaligus mengasah kemampuan praktis mahasiswa dalam membangun sebuah usaha. Ia menambahkan bahwa kemunculan pelaku usaha baru di Indonesia sejatinya harus melewati dua fase penting, yakni internalisasi karakter di lingkungan informal keluarga dan pemantapan keilmuan di institusi pendidikan formal.

Menurutnya, pemahaman teori di kelas tidak akan pernah cukup tanpa adanya pengenalan dini terhadap ekosistem industri yang sesungguhnya. “Pendidikan formal berfungsi sebagai fondasi utama untuk mengubah potensi akademis mahasiswa menjadi kompetensi bisnis yang siap pakai,” tegasnya.
Ia menguraikan peran vital lingkungan keluarga sebagai penyedia rekam jejak atau role model yang membentuk karakter dasar dan praktik bisnis awal anak. Di sisi lain, perguruan tinggi memegang tanggung jawab untuk menyuplai literasi ilmiah, memfasilitasi program pemagangan lewat konsep kolaborasi triple helix bersama industri dan pemerintah, serta menyuntikkan motivasi berkelanjutan. Pola integrasi ini dinilai menjadi instrumen paling efektif untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan realita dunia kerja.

“Sinergi tiga pilar antara kampus, korporasi, dan birokrasi adalah mesin penggerak utama untuk melahirkan inovator muda yang mandiri,” tuturnya.

Di hadapan para peserta, ia juga memaparkan fenomena para pelaku bisnis sukses di tingkat global yang mampu bangkit dari keterbatasan ekonomi berkat proses belajar mandiri yang konsisten. Mayoritas tokoh dunia tersebut memulai karier mereka dengan bekerja paruh waktu demi mengumpulkan modal kerja sekaligus menyerap pengalaman langsung sebelum akhirnya berani mendirikan perusahaan sendiri.
“Pengalaman langsung di lapangan adalah guru terbaik yang akan mengubah tantangan finansial menjadi peluang bisnis yang menjanjikan,” pungkasnya. (andhiko ta)


