Dosen Universitas Indo Global Mandiri Jadi Partisipan dalam International Virtual Course 2026; Sustainable Small Island Development

IGMTVnews.com —– Dua Akademisi Universitas Indo Global Mandiri (IGM) menjadi pembicara dan mempresentasikan kajian mereka dalam International Virtual Course 2026; Sustainable Small Island Development di Medan dan Pulau Samosir, pada 26 – 30 Juni mendatang.

Keduanya yakni Dr. Tien Yustini, SE., M.Si dan Prof. Darius Antoni, akan membawa perspektif strategis mengenai penguatan ekonomi lokal dan reformasi tata kelola digital di wilayah pedesaan serta kepulauan.

Dalam forum tersebut, Dr. Tien Yustini bakal membedah strategi membangun ekonomi pulau yang tangguh, inklusif, dan hijau di tengah ancaman perubahan iklim global. Paparannya menitikberatkan pada integrasi pariwisata berkelanjutan, ekonomi biru, energi terbarukan, serta optimalisasi koperasi lokal berbasis kearifan setempat demi mengatasi keterbatasan infrastruktur dan investasi. Sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan swasta dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga kelestarian ekosistem tanpa mengorbankan identitas budaya masyarakat.

“Wilayah kepulauan kecil sangat rentan terhadap degradasi lingkungan, sehingga intervensi ekonomi yang kita tawarkan harus berbasis pada daya dukung alam lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Darius Antoni akan mempresentasikan model “DESA” sebagai prasyarat utama dalam mewujudkan pelayanan publik digital yang inklusif dan berkelanjutan. Berpijak pada riset lapangan di Sumatra Selatan, ia menegaskan bahwa transformasi digital pedesaan tidak boleh sekadar berfokus pada adopsi perangkat teknologi, melainkan harus menyentuh perbaikan tata kelola.

Kerangka kerja model ini mengintegrasikan empat komponen penting, yakni penggerak, koordinasi kolaboratif, ekosistem kolaboratif, serta hasil pelayanan publik yang berkualitas. Infrastruktur teknologi informasi yang matang dipastikan dapat memperkuat layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, hingga administrasi kependudukan. “Teknologi akan menjadi alat yang sia-sia jika tidak dibarengi dengan kesiapan tata kelola dan kolaborasi yang solid antar-pemangku kepentingan di tingkat desa,” pungkasnya. (andhiko ta)